Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Deskripsi Peran Perawat Di Kamar Operasi

Posted by Unknown Jumat, 13 Februari 2015 0 komentar




Selamat siang teman sejawat, yang nanti ingin jadi perawat OK sebelumnya wajib baca ini ya..cekidot :)


Pengertian Kamar Operasi


Kamar operasi adalah suatu unit khusus di rumah sakit, tempat untuk melakukan tindakan pembedahan, baik elektif maupun akut, yang membutuhkan keadaan suci hama (steril).


Secara umum lingkungan kamar operasi terdiri dari 3 area.


1. Area bebas terbatas (unrestricted area)
Pada area ini petugas dan pasien tidak perlu menggunakan pakaian khusus kamar operasi.


2. Area semi ketat (semi restricted area)
Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi yang terdiri atas topi, masker, baju dan celana operasi.


3. Area ketat/terbatas (restricted area).
Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi lengkap dan melaksanakan prosedur aseptic.


Job Description Kamar Operasi


Peran perawat perioperatif tampak meluas, mulai dari praoperatif, intraoperatif, sampai ke perawatan pasien pascaanestesi. Peran perawat di kamar operasi berdasarkan fungsi dan tugasnya terbagi 3 yaitu :

1. Perawat administratif
2. Perawat pada pembedahan
3. Perawat pada anestesi

Pada praktiknya, peran perawat perioperatif dipengaruhi oleh beberapa faktor :


1. Lama pengalaman
Lamanya pengalaman bertugas dikamar operasi, terutama pada kamar pembedahan khusus, seperti sebagai perawat instrumen di kamar bedah saraf, onkologi, ginekologi, dan lain lain akan memberikan dampak yang besar terhadap peran perawat dalam menentukan hasil pembedahan.


2. Kekuatan dan ketahanan fisik
Beberapa jenis pembedahan, seperti bedah saraf, toraks, kardiovaskular, atau spina memerlukan waktu operasi yang panjang. Pada kondisi tersebut, perawat instrumen harus berdiri dalam waktu lama dan dibutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi. Oleh karena itu, agar mengikuti jalannya pembedahan secara optimal, dibutuhkan kekuatan dan ketahanan fisik yang baik.


3. Keterampilan
Keterampilan terdiri atas keterampilan psikomotor, manual, dan interpersonal yang kuat. Agar dapat mengikuti setiap jenis pembedahan yang berbeda-beda, perawat instrumen diharapkan mampu untuk mengintegrasikan antara keterampilan yang dimiliki dengan keinginan dari operator bedah pada setiap tindakan yang dilakukan dokter bedah dan asisten bedah. Hal ini akan memberikan tantangan tersendiri pada perawat untuk mengembangkan keterampilan psikomotor mereka agar bisa mengikuti jalannya pembedahan.


4. Sikap professional
Pada kondisi pembedahan dengan tingkat kerumitan yang tinggi, timbul kemungkinan perawat melakukan kesalahan saat menjalankan perannya. Perawat harus bersikap professional, dan mau menerima teguran. Kesalahan yang dilakukan oleh salah satu peran akan berdampak pada keseluruhan proses dan hasilpempedahan.


5. Pengetahuan
Yaitu pengetahuan tentang prosedur tetap yang digunakan institusi. Perawat menyesuaikan peran yang akan dijalankan dengan kebijakan dimana perawat tersebut bekerja. Pengetahuan yang optimal tentang prosedur tetap yang berlaku akan memberikan arah pada peran yang dilaksanakan.


Peran Perawat Pre Operasi

  1. Sebelum tindakan operasi dimulai, peran perawat melakukan pengkajian pre operasi
  2. awal, merencanakan penyuluhan dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan
  3. pasien, melibatkan keluarga atau orang terdekat dalam wawancara, memastikan
  4. kelengkapan pemeriksaan praoperasi, mengkaji kebutuhan klien dalam rangka
  5. perawatan post operasi.
a) Pengkajian
Sebelum operasi dilaksanakan pengkajian menyangkut riwayat kesehatan dikumpulkan, pemeriksaan fisik dilakukan, tanda-tanda vital di catat dan data dasar di tegakkan untuk perbandingan masa yang akan datang. Pemeriksaan diagnostik mungkin dilakukan seperti analisa darah, endoskopi, rontgen, endoskopi, biopsi jaringan, dan pemeriksaan feses dan urine. Perawat berperan memberikan penjelasan pentingnya pemeriksaan fisik diagnostik.


Disamping pengkajian fisik secara umum perlu di periksa berbagai fungsi organ seperti pengkajian terhadap status pernapasan, fungsi hepar dan ginjal, fungsi endokrin, dan fungsi imunologi.


Status nutrisi klien pre operasi perlu dikaji guna perbaikan jaringan pos operasi, penyembuhan luka akan di pengaruhi status nutrisi klien. Demikian pula dengan kondisi obesitas, klien obesitas akan mendapat masalah post operasi dikarenakan lapisan lemak yang tebal akan meningkatkan resiko infeksi luka, juga terhadap kesulitan teknik dan mekanik selama dan setelah pembedahan.


b) Informed Consent
Tanggung jawab perawat dalam kaitan dengan Informed Consent adalah memastikan bahwa informed consent yang di berikan dokter di dapat dengan sukarela dari klien, sebelumnya diberikan penjelasan yang gamblang dan jelas mengenai pembedahan dan kemungkinan resiko.


c) Pendidikan Pasien Pre operasi
Penyuluhan pre operasi didefinisikan sebagai tindakan suportif dan pendidikan yang dilakukan perawat untuk membantu pasien bedah dalam meningkatkan kesehatannya sendiri sebelum dan sesudah pembedahan. Tuntutan klien akan bantuan keperawatan terletak pada area pengambilan keputusan, tambahan pengetahuan, keterampilan,dan perubahan perilaku.

Dalam memberikan penyuluhan klien pre operasi perlu dipertimbangkan masalah waktu, jika penyuluhan diberikan terlalu lama sebelum pembedahan memungkinkan klien lupa, demikian juga bila terlalu dekat dengan waktu pembedahan klien tidak dapat berkonsentrasi belajar karena adanya kecemasan atau adanya efek medikasi sebelum anastesi.


d) Informasi Lain
Pasien mungkin perlu diberikan penjelasan kapan keluarga atau orang terdekat dapat menemani setelah operasi. Pasien dianjurkan berdo’a.Pasien diberi penjelasan kemungkinan akan dipasang alat post operasinya seperti ventilator, selang drainase atau alat lain agar pasien siap menerima keadaan post operasi.


Peran Perawat Administratif
perawat administratif berperan dalam pengaturan manajemen penunjang pelaksanaan pembedahan. Biasanya terdiri dari perencanaan dan pengaturan staf, kolaborasi penjadwalan pasien bedah, perencanaan manajemen material, dan manajemen kinerja.


Peran perawat administratif :


a. Perencanaan dan Pengaturan Staf

Pengaturan dan penjadwalan staf adalah tanggungbjawab manajemen tang dipercayakan dan diberikan kepada perawat administratif. Dalam upaya memenuhi standar ini, staf yang melakukan tanggung jawab administratif ini harus memahami cara untuk mengembangkan standar pengaturan dan penjadwalan staf.

Menurut Gruendemann (2006), ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan pengaturan staf, yaitu :

1) Mengidentifikasi jenis pekerjaan yang akan dilakukan
2) Mengidentifikasi jumlah staf yang diperlukan
3) Mengidentifikasi tipe pekerja yang diperlukan untuk pekerjaan tersebut
4) Mengembangkan pola pengaturan untuk penjadwalan staf. Penjadwalan staf meliputi pengembangan kebijakan penjadwalan dan pengembangan jadwal kerja untuk staf.


b. Identifikasi Jenis Pekerjaan

Dikamar operasi staf pekerjaan dibagi menjadi staf perawatan langsung dan staf perawatan tak langsung.

Staf perawatan langsung terdiri dari perawat scrub, perawat sirkulasi (unloop), perawat anestesi, dan perawat asisten operasi.

Staf perawatan tidak langsung tidak memberikan asuhan langsung kepada pasien. Semua personel tambahan yang diperlukan untuk mendukung ruang operasi, seperti sekretaris, teknisi instrumen, personel pelayanan lingkungan, personel transport, personel keuangan, dan perawat administratif dipertimbangkan juga sebagai pemberi perawatan tidak langsung.

Perencanaan jumlah staf perawatan langsung atau tidak langsung disesuaikan berdasarkan kebutuhan dari jumlah ruang operasi yang tersedia setiap jam per hari dan disesuaikan dengan kebujakan pada setiap institusi.


c. Penjadwalan staf

Kebijakan penjadwalan menjadi kerangka kerja untuk mengembangkan jadwal kerja staf yang dilakukan secara adil dan konsisten, dalam kaitannya dengan pedoman penjadwalan yang jelas. Kebijakan harus mencakup tanggung jawab staf untuk bekerja pada akhir minggu, merotasi shift, memenuhi panggilan, bekerja pada hari libur, dan bekerja tengah malam.

Kebijakan juga harus meliputi penetapan waktu libur dan mengidentifikasi rasio staf perawatan langsung seperti perawat scrub, perawat asisten operasi, dan perawat anestesi per shift.


d. Penjadwalan Pasien Bedah

Dilakukan oleh perawat administratif berkolaborasi dengan dokter bedah pada setiap kamar bedah yang tersedia. Peran perawat supervisor atau administratif dalam mengatur jadwal pasien bedah bertujuan untuk menjaga kondisi para perawat perioperatif di kamar bedah.

Kolaborasi dilakukan dengan memperhitungkan jenis dan lamanya pembedahan.


e. Manajemen Material dan Inventaris

Perawat administratif yang melakukan perencanaan dan control terhadap inventaris dan material biasanya adalah Kepala Perawat di ruang operasi yang dibantu oleh staf nonoperatif.

Barang inventaris yang berada digudang kamar operasi seperti kereta lemari, tempat pemnyimpanan kereta, tempet penyimpanan barang-barang khusus dikamar operasi, dan cabinet masing-masing kamar operasi. Persediaan tersebut dapat berupa peralatan medis dan bedah, barang steril dan non steril, obat-obatan, baki untuk instrumen, atau barang lain yang digunakan dikamar operasi. Inventaris biasanya selalu mengacu pada barang medis dan bedah yang sebagian besar bersifat habis pakai.

Fungsi kontrol terhadap material dilakukan dengan tuuan untuk memberikan rasa percaya antarstaf. Persediaan harus memadai jika sewaktu-waktu diperlukan.


f. Pengaturan kinerja

Pengaturan kinerja dengan cara yang sistematis agar staf dapat mencapai tujuan penyelesaian tugas secara optimal.

Perencanaan kegiatan sistematis direncanakan secara individual terhadap seluruh staf, misalnya pengaturan staf baru dengan metode orientasi dasar, bimbingan kompetensi kamar operasi, dan pengenalan alat canggih. Implementasi kegiatan dapat berupa umpan balik terhadap hasil yang terlaksana. Penilaian kinerja staf akan mencermati hasil disesuaikan dengan kebijakan institusi.


Peran Perawat Instrumen

Perawat scrub atau di Indonesia dikenal sebagai perawat instrumen memiliki tanggung jawab terhadap manajemen instrumen operasi pada setiap jenis pembedahan. Secara spesifik peran dan tanngung jawab dari perawat instrumen adalah sebgai berikut :
  1. Perawat instrumen menjaga kelengkapan alat instrumen steril yang sesuai dengan jenis operasi.
  2. Perawat instrumen harus selalu mengawasi teknik aseptik dan memberikan instrumen kepada ahli bedah sesuai kebutuhan dan menerimanya kembali.
  3. Perawat instrumen harus terbiasa dengan anatomi dasar dan teknik-teknik bedah yang sedang dikerjakan.
  4. Perawat instrumen harus secara terus menerus mengawasi prosedur untuk mengantisipasi segala kejadian
  5. Melakukan manajemen sirkulasi dan suplai alat instrumen operasi. Mengatur alat-alat yang akan dan telah digunakan. Pada kondisi ini perawat instrumen harus benar-benar mengetahui dan mengenal alat-alat yang akan dan telah digunakan beserta nama ilmiah dan mana biasanya, dan mengetahui penggunaan instrumen pada prosedur spesifik.
  6. Perawat instrumen harus mempertahankan integritas lapangan steril selama pembedahan.
  7. Dalam menangani instrumen, Perawat instrumen harus mengawasi semua aturan keamanan yang terkait. Benda-benda tajam, terutama skapel, harus diletakkan dimeja belakang untuk menghindari kecelakaan.
  8. Perawat instrumen harus memelihara peralatan dan menghindari kesalahan pemakaian.
  9. Perawat instrumen harus bertanggung jawab untuk mengkomunikasikan kepada tim bedah mengenai setiap pelanggaran teknik aseptik atau kontaminasi yang terjadi selama pembedahan.
  10. Menghitung kasa, jarum, dan instrumen. Perhitungan dilakukan sebelum pembedahan dimulai dan sebelum ahli bedah menutup luka operasi.


Peran Perawat Sirkulasi

Perawat sirkulasi atau dikenal juga dengan sebutan perawat unloop bertanggung jawab menjamin terpenuhinya perlengkapan yang dibutuhkan oleh perawat instrumen dan mengobservasi pasien tanpa menimbulkan kontaminasi terhadap area steril.
  1. Perawat sirkulasi adalah petugas penghubung antara area steril dan bagian ruang operasi lainnya. Secara umum, peran dan tangggung jawab perawat sirkulasi adalah sebagai berikut :
  2. Menjemput pasien dari bagian penerimaan, mengidentifikasi pasien, dan memeriksa formulir persetujuan.
  3. Mempersiapkan tempat operasi sesuai prosedur dan jenis pembedahan yang akan dilaksanakan. Tim bedah harus diberitahu jika terdapat kelainan kulit yang mungkin dapat menjadi kontaindikasi pembedahan.
  4. Memeriksa kebersihan dan kerapian kamar operasi sebelum pembedahan. Perawat sirkulasi juga harus memperhatikan bahwa peralatan telah siap dan dapat digunakan. Semua peralatan harus dicoba sebelum prosedur pembedahan, apabila prosedur ini tidak dilaksanakan maka dapat mengakibatkan penundaan atau kesulitan dalam pembedahan.
  5. Membantu memindahkan pasien ke meja operasi, mengatur posisi pasien, mengatur lampu operasi, memasang semua elektroda, monitor, atau alat-alat lain yang mungkin diperlukan.
  6. Membantu tim bedah mengenakan busana (baju dan sarung tangan steril)
  7. Tetap ditempet selema prosedur pembedahan untuk mengawasi atau membantu setiap kesulitan yang mungkin memerlukan bahan dari luar area steril
  8. Berperan sebagai tangan kanan perawat instrumen untuk mengambil, membawa, dan menyesuaikan segala sesuatu yang diperlukan oleh perawat instrumen. Selain itu juga untuk mengontrol keperluan spons, instrumen dan jarum.
  9. Membuka bungkusan sehingga perawat instrumen dapat mengambil suplai steril.
  10. Mempersiapkan catatan barang yang digunakan serta penyulit yang terjadi selama pembedahan.
  11. Bersama dengan perawat instrumen menghitung jarum, kasa, dan kompres yang digunakan selama pembedahan.
  12. Apabila tidak terdapat perawat anestesi, maka perawat sirkulasi membantu ahli anestesi dalam melakukan induksi anestesi.
  13. Mengatur pengiriman specimen biopsy ke labolatorium
  14. Menyediakan suplai alat instrumen dan alat tambahan.
  15. Mengeluarkan semua benda yang sudah dipakai dari ruang operasi pada akhir prosedur, memastikan bahwa semua tumpahan dibersihkan, dan mempersiapkan ruang operasi untuk prosedur berikutnya.



Peran Perawat Anestesi

Perawat anestesi adalah perawat dengan pendidikan perawat khusus anestesi. Peran utama sebagai perawat anestesi pada tahap praoperatif adalah memastikan identitas pasien yang akan dibius dan melakukan medikasi praanestesi. Kemudian pada tahap intraoperatif bertanggung jawab terhadap manajemen pasien, instrumen dan obat bius membantu dokter anestesi dalm proses pembiusan sampai pasien sadar penuh setelah operasi.

Pada pelaksanaannnya saat ini, perawat anestesi berperan pada hampir seluruh pembiusan umum. Perawat anestesi dapat melakukan tindakan prainduksi, pembiusan umum, dan sampai pasien sadar penuh diruang pemulihan.


Peran dan tanggung jawab perawat anestesi secara spesifik antara lain :
  1. Menerima pasien dan memastikan bahwa semua pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai peraturan institusi
  2. Melakukan pendekatan holistik dan menjelaskan perihal tindakan prainduksi
  3. Manajemen sirkulasi dan suplai alat serta obat anestesi
  4. Pengaturan alat-alat pembiusan yang telah digunakan.
  5. Memeriksa semua peralatan anestesi (mesin anestesi, monitor dan lainnya) sebelum memulai proses operasi.
  6. Mempersiapkan jalur intravena dan arteri, menyiapkan pasokan obat anestesi, spuit, dan jarum yang akan digunakan; dan secara umum bertugas sebagai tangan kanan ahli anestesi, terutama selama induksi dan ektubasi.
  7. Membantu perawat sirkulasi memindahkan pasien serta menempatkan tim bedah setelah pasien ditutup duk dan sesudah operasi berjalan.
  8. Berada di sisi pasien selama pembedahan, mengobservasi, dan mencatat status tanda-tanda vital, obat-obatan, oksigenasi, cairan, tranfusi darah, status sirkulasi, dan merespon tanda komplikasi dari operator bedah.
  9. Memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan ahli anestesi untuk melakukan suatu prosedur (misalnya anestesi local, umum, atau regional)
  10. Member informasi dan bantuan pada ahli anestesi setiap terjadi perubahan status tanda-tand vital pasien atau penyulit yang mungkin mengganggu perkembangan kondisi pasien.
  11. Menerima dan mengirim pasien baru untuk masuk ke kamar prainduksi dan menerima pasien di ruang pemulihan .


Peran Perawat Ruang Pemulihan

Perawat ruang pemulihan adalah perawat anestesi yang menjaga kondisi pasien sampai sadar penuh agar bisa dikirim kembali ke ruang rawat inap.

Tanggung jawab perawat ruang pemulihan sangat banyak karena kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat pada fase ini. Perawat yang bekerja diruangan ini harus siap dan mampu mengatasi setiap keadaan darurat. Walaupun pasien di ruang pemulihan merupakan tanggung jawab ahli anestesi, tetapi ahli anestesi mengandalkan keahlian perawat untuk memantau dan merawat pasien sampai bbenar-benar sadar dan mampu dipindahkan keruang rawat inap.




DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari.2009.Asuhan Keperawatan Perioperatif Konsep, Proses, dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika.

semoga bisa jadi referensi sobat, salam sehat....

thanks to source

Baca Selengkapnya ....

ASKEP Pada Bayi Prematur

Posted by Unknown Senin, 16 September 2013 0 komentar
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kebanyakan bayi adalah matur, sehat dan terbentuk sempurna pada saat lahir, tetapi dalam presentase kecil tidaklah demikian. Bagi mereka yang mengalami hal demikian, deteksi dan penanganan awal terhadap masalah adalah penting.

Sebetulnya semua bayi yang berkembang dibawah normal disebut premature kemudian diketahui bahwa baik usia gestasi dan pertumbuhan yang diukur melalui berat badan merupakan indicator penting terhadap derajat resiko yang sesuai. Berbicara sesuai umum, bayi paterm dan mereka dengan BBLR memiliki tingkat mortalitas yang tinggi dibandingkan dengan bayi lahir fullterm dengan berat badan yang sesuai. Bayi yang memiliki masalah yang berhubungan dengan pertumbuhan biasanya mengalami gangguan pernafasan, neurology dan terminal.

Namun belakangan ini teknologi kedokteran sangat maju. Jaman dulu bayi prematur yang lahir usia 6 bulan ke bawah (25 minggu atau kurang) hamper tidak ada harapan hidup sama sekali. Boleh dibilang hampir semuanya mati. Karena kemajuan kedokteran sekarang, bayi lahir prematur sekitar 6 bulan bisa dipertahankan hidupnya.

Pada mulanya tim dokter dan orang tua senang dengan adanya teknologi ini. Mereka bisa menyelamatkan nyawa bayi yang pada jaman dulu sudah hampir pasti akan mati jika lahir usia kandungan 25 minggu atau kurang. Karena teknologi ini sangat baru, efeknya tidak terlalu diketahui. Sampai pada akhirnya ada yang mempelajari efek bayi prematur. Dan hasilnya bahwa bayi prematur yang diselamatkan dahulu hanya 25% yang bisa dianggap nomal. Dari jumlah yang sedikit itupun, sebagian besar kecerdasannya sangat terbatas (bodoh). 75% sisanya mengalami berbagai macam kelainan, dari gagal ginjal, problem dengan jantung, sampai pada keterbelakangan mental akut.

B.    Tujuan
1.    Tujuan Umum
mampu untuk mengidentifikasi dan memberikan asuhan keperawatan pada bayi premature.

2.    Tujuan Khusus
a.    Mereview anatomi dan fisiologi pada bayi prematur
b.    Menjelaskan pengertian bayi prematur
c.    Menjelaskan etiologi bayi prematur
d.    Menjelaskan patofisiologi bayi prematur
e.    Menjelaskan penatalaksanaan bayi prematur
f.    Mengidentifikasi asuhan keperawatan bayi prematur



BAB II
TINJAUAN TEORI
A.    Anatomi Dan Fisiologi
1.    Vital Statistik
a.    Berat badan bayi baru lahir tergantung dari factor nutrisi, genetic dan factor intrauterine selama kehamilan. Pengelompokan berat badan bayi baru lahir membantu dalam mengidebtifikasi risiko terhadap neonatus karena berat badanyang kecil kemungkinan memiliki masa gestasi yang kecil. Bayi matur memiliki berat badan kira – kira 3,4 kg pada perempuan dan 3,5kg pada laki – laki. Batas berat badan terendah bagi bayi matur adalah 2,5 kg. bayi dengan berat badan lahir sekitar 4,7 kg harus dicurigai terhadap adanya diabetes mellitus pada ibunya. Sekitsr 75 % - 95 % berat badan bayi merupakan cairan tubuhnya. Bayi akan kehilangan cairan sekitar 5 % - 10 % pada beberapa hari pertama setelah kelahiran. Setelah mengalami kehilangan cairan yang inisial, maka bayi akan mengalami berat badan yang stabildalam waktu 10 hari. Kemudian akan bertambah sebanyak 6 – 8 ons/ minggu pada 6 bln pertama kelahiran.

b.    Panjang badan bayi baru lahir kira – kira 53 cm pada perempuan dan pada bayi laki – laki memiliki panjang badan 54 cm.


c.    Lingkar kepala baru lahir adalah 34 – 35 cm. Bayi baru lahir dengan lingkar kepala lebih dari 37 cm atau kurang dari 33 cm harus diidentifikasi mengenai adanya kelainan neurology. Pengukuran lingkar kepala menggunakan pita ukur yang dilakukan pada tengah – tengah dahi sehingga kepala belakang dapat terukur.

d.    Lingkar dad pada bayi baru lahir adalah 2 cm kurang dari lingkar kepala. Pengukuran dilakukan tepat diatas nipple, yakni tonjolan berpigmen pada permukaan anterior kelenjar mamae. Dikelilingi oleh areola, tempat keluarnya air susu dari payudara.


2.    Tanda Vital
a.    Temperatur
1)    Konfeksi
Adalah kehilangan panas dari permukaan tubuh menuju udara sekitar yang lebih dingin.

2)    Konduksi
Adalah transfer panas pada obyek/ benda yang lebih dingin tanpa kontak denagn tubuh bayi.

3)    Radiasi
Adalah transfer panas pada obyek yang lebih dingin tanpa kontak dengan tubuh bayi.

4)    Evaporasi
Adalah kehilangan panas karena ada penguapan.

b.    Nadi
Tekanan nadi fetus yang masih dalam kandungan adalah 120 – 160 bpm. Segera setelah lahir, dimana bayi akan berjuang untuk bernafas, maka denyut jantung menjadi cepat sekitar 180 bpm. Beberapa jam setelah lahir, denyut jantung akan stabil sekitar 120 – 140 bpm. Denyut jantung pada bayi baru lahir biasanya irregular karena kardiolegulator di medulla belum matang. Murmur biasanya terjadi akibat penutupan inkomplit pada sirkulasi. Pada saat menangis, denyut jantung menjadi 180 bpm dan pada saat tidur 90 – 110 bpm.

c.    Pernafasan
Pernafasan pada bayi baru lahir adalah 80X/ mnt, setelah beberapa menit kehidupan. Setelah aktivitas pernafasan dipertahankan, maka menjadi stabil sekitar 30 – 60X/ mnt dalam keadaan istirahat. Kedalaman ritme masih irreguler dan terjadi apnea yang singkat tanpa sianosi yang disebut pernafasan periodik dan merupakan keadaan normal. Reflek batuk dan bersin pada bayi baru lahir dilakukan untuk membersihkan saluran nafas.

d.    Tekanan darah
Tekanan darah bayi baru lahir adalah 80/ 46 mmHg. Setelah 10 hari akan meningkat ketika bayi menangis.

Selengkapnya bisa download Disini

Baca Selengkapnya ....

ASKEP Jiwa Pada Pasien Dengan Harga Diri Rendah

Posted by Unknown Minggu, 15 September 2013 0 komentar
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Manusia adalah merupakan makhluk sosial dari zaman dahulu. Di dunia telah terdapat tanda-tanda yang menunjukkan bahwa pada waktu tertentu manusia sudah mengenal dan berusaha mengobati gangguan jiwa.

Pada zaman modern ini ternyata pengobatan dengan model keagamaan masih ada dinegara kita dan dinegara berkembang lainnya. Secara garis besar sejarah perkembangan keperawatan kesehatan mental, psikiatri diluar negeri sekarang dapat dikelompokkan kedalam priodisasi yaitu perawat sebagai profesi dalam keperawatan, sebagai elemen inti dari semua praktek keperawatan. (Widodo, 2005)

Program kesehatan jiwa di Indonesia bermula dari program pelayanan asien gangguan jiwa berat (psikosis) didalam RSJ yang boleh dikaji hanya berupa pelayanan kuratif dengan perawat inap saja yang masih “Costudial” bersifat tertutup dan isolative. Hal ini disebabkan karena pelayanan kuratif dengan perawat inap saja yang masih terbatas karena obat psikotropika belum ada, psikoterapi pun belum ada, sedangkan waktu terapi belum dapat dikasihkan sebagai okupasi terapi  atau kegiatan yang bertujuan rehabilitasi, karena biasanya tinggal di RS Jiwa sampai meninggal. (Widodo, 2005)

Menurut Harwati (2008) skizofrenia merupakan penyakit otak yang sanggup merusak dan menganjurkan emosi, selain karena faktor genetic penyakit ini juga bisa muncul akibat tekanan darah tinggi. Gangguan menjadi masalah serius diseluruh dunia. WHO taun 2007, menyatakan paling tidak 1 dari 4 orang atau sekitar 450 juta orang terganggu jiwanya. Di Indonesia berdasarkan survey kesehatan RT, pada setiap 1000 anggota RT terdapat 185 orang mengalami gangguan terkait masalah kejiwaan. Menurut (Halwan, 2007) bahwa jumlah penderita skizofrenia di Indonesia adalah 3,5 per 1000. Penduduk mayoritas penderita berada di kom besar. Ini terkait dengan tingginya stress yang muncul didaerah perkotaan.

Seiring dengan peradaban masalah manusia masalah kehidupan semakin komplen pula. Masalah tersebut bisa berasal sendiri, maupun dari faktor lain yakni gangguan pada fisik maupun mental akibat kemunculan masalah tersebut. Gangguan fisik mungkin sudah umum terjadi dengan sarana penunjangnya juga telah banyak tersedia diberbagai tempat, sedangkan gangguan mental lebih sering dianggap tidak perlu dirawat dipelayanan kesehatan dengan alasan keterbatasan pengetahuan dan prasarana. (STUART dan Kemla, 2001)

Dari data yang diperoleh dari Ruang Melati RSJ Prof. HB Saanin pada tahun 2012 pada enam bulan terakhir didapatkan jumlah pasien yang dirawat semua sebanyak 336 orang dan 44 orang diantaranya dengan diagnose keperawatan HDR (Harga Diri Rendah).

B.    TUJUAN
1.    Tujuan Umum
Kelompok mampu memberikan asuhan keperawatan jiwa pada pasien yang mengalami Harga Diri Rendah.

2.    Tujuan Khusus
a.    Mampu memahami konsep dari Harga Diri Rendah.
b.    Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan Harga Diri Rendah.
c.    Mampu menegakkan diagnose keperawatan pada klien dengan Harga DIri Rendah.
d.    Mampu menyusun intervensi keperawatan yang sesuai dengan masalah yang diprioritaskan pada klien dengan Harga Diri Rendah.
e.    Mampu melaksanakan implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi keperawatan yang dibuat pada klien dengan Harga Diri Rendah.
f.    Mampu melakukan evaluasi terhadap implementasi keperawatan yang diberikan pada klien dengan Harga Diri Rendah.
g.    Mampu melakukan pendokumentasian keperawatan pada klien dengan Harga Diri Rendah.

C.    MANFAAT PENULISAN
1.    Mahasiswa
Menambah pengetahuan mahasiswa tentang konsep dan asuhan keperawatan pada pasien Harga Diri Rendah.

2.    Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan bagi RSJ dalam memberikan asuhan keperawatan.

3.    Institusi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa yang menginginkan pengetahuan tentang konsep HDR & Asuhan Keperawatannya.

4.    Klien & Keluarga
Menambah pengetahuan klien & keluarga dalam merawat keluarga/klien dengan Harga Diri Rendah.



BAB II
TINJAUAN TEORI
A.    PENGERTIAN
Harga diri rendah adalah
a.    menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga da tidak dapat bertanggung jawab pada kehidupannya sendiri
b.    perassan tidak berharga, tidak berarti dan rendanh diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negative terhadap diri sendiri dan kemammpuan diri.
c.    Penilain individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesaui dengan ideal diri. Pencapaian ideal diri atau cita-cita atau harapan langsung menghasilkan perasaan bahagia. (Kelliat, Budi. A, 1998)

Selengkapnya download Disini

Baca Selengkapnya ....

ASKEP Pada Pasien Dengan Enuresis

Posted by Unknown Jumat, 13 September 2013 2 komentar

BAB I PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang
Enuresis atau yang lebih kita kenal sehari-hari dengan istilah “mengompol”, sudah tidak terdengar asing bagi kita khususnya di kalangan orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu “momok” yang sering dihadapi dalam hal ini para ibu yang telah mempunyai anak, terutama anak yang berusia antara 4-6 tahun. Dalam kasus ini tidak jarang pula usia di atas 6 tahun masih mengalami enuresis ini.

B. Tujuan
a. Mahasiswa mampu mengetahui definisi dari enuresis.
b. Mahasiswa mampu mengetahui tipe-tipe dari enuresis.
c. Mahasiswa mampu mengetahui etiologi dari enuresis.
d. Mahasiswa mampu mengetahui manifestasi klinis dari enuresis.
e. Mahasiswa mampu mengetahui anatomi dan fisiologi normal dari kandung kemih.
f. Mahasiswa mampu mengetahui patofisiologi.
g. Mahasiswa mampu mengetahui komplikasi dan prognosis.
h. Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan dari enuresis.
i. Mahasiswa mampu mengetahui pemeriksanaan penunjang dari enuresis.
j. Mahasiswa mampu mengetahu asuhan keperawatan pada pasien dengan enuresis.

Download lebih lengkap  Klik Disini

Baca Selengkapnya ....

Struktur dan Fungsi Sel

Posted by Unknown Sabtu, 20 Juli 2013 2 komentar
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sel merupakan kesatuan dasar sruktural dan fungsional makhluk hidup. Sebagai kesatuan struktural berarti makhluk hidup terdiri atas sel-sel. Makhluk hidup yang terdiri atas satu sel disebut makhluk hidup bersel tunggal (uniseluler = monoseluler) dan makhluk hidup yang terdiri dari banyak sel disebut makhluk hidup multiseluler.
Sel sebagai unit fungsional berarti seluruh fungsi kehidupan/ aktivitas kehidupan (proses metabolisme, reproduksi, iritabilitas, digestivus, ekskresi dan lainnya) pada makhluk hidup bersel tunggal dan bersel banyak berlangsung di dalam tubuh yang dilakukan oleh sel.

1.2 Batasan Masalah  

Adapun batasan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Mengidentifikasi sel prokariotik dan sel eukariotik
2. Mengidentifikasi struktur dan fungsi organel sel
3. Mengidentifikasi perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan


1.3 Tujuan Ingin Dicapai

Adapun tujuan penulis dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Diharapkan dapat memahami struktur dan fungsi sel tumbuhan dan hewan dalam kehidupan.
2. Mengidentifikasi perbedaan struktur dan fungsi sel tumbuhan dan hewan dalam kehidupan.
3. Sebagai salah satu tugas yang dibebankan oleh guru mata pelajaran biologi.


1.4 Metode Yang Digunakan

Metode deskriftif dengan teknik study kepustakaan atau literature, yaitu pengetahuan yang bersumber dari beberapa media tulis baik berupa buku, litelatur dan media lainnya yang tentu ada kaitannya masalah-masalah yang di bahas di dalam makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Alberts B. 1994. Biologi Molekuler Sel, Edisi Kedua. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2004. Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (GBPP) Mata Pelajaran Biologi. Depdikbud, Jakarta.

Siregar. Ameilia Z. 2008.Biologi Pertanian, Jilid 1. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Download selengkapnya click here

Baca Selengkapnya ....

Trend dan Issue Keperawatan Jiwa

Posted by Unknown Jumat, 19 Juli 2013 0 komentar
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Setelah tahun 2000, dunia khususnya bangsa Indonesia memasuki era globalisasi, pada tahun  2003  era  dimulainya  pasar  bebas  ASEAN  dimana  banyak  tenaga  professional keluar   dan   masuk   ke   dalam   negeri.   Pada   masa   itu   mulai   terjadi   suatu   masa transisi/pergeseran   pola   kehidupan   masyarakat   dimana   pola   kehidupan   masyarakat tradisional berubah menjadi masyarakat yang maju. Keadaan itu menyebabkan berbagai macam dampak pada aspek kehidupan masyarakat khususnya aspek kesehatan baik yang berupa   masalah   urbanisaasi,   pencemaran,   kecelakaan,   banyak   tindakan   kekerasan, kenakalan  remaja,  penyalahgunaan  NAPZA,  tauran,  penggangguran,  tindak  penyaluran agresifitas  atau  anarkis,  putus  sekolah,  PHK,  disamping  meningkatnya  angka  kejadian penyakit   klasik   yang   berhubungan   dengan   infeksi,   kurang   gizi,   dan   kurangnya pemukiman  sehat  bagi  penduduk.  Pergeseran  pola  nilai  dalam  keluarga  dan  umur harapan  hidup  yang  meningkat  juga  menimbulkan  masalah  kesehatan  yang  berkaitan dengan  kelompok  lanjut  usia  serta  penyakit  degeneratif.  Dengan  banyaknya  masalah- masalah  yang  ada  dalam  keperawatan  jiwa  yang  kini  kita  hadapi,  maka  kita  perlu mengkaji ulang faktor yang mempengaruhi masalah-masalah keperawatan jiwa.

Telah  terbukti  bahwa  upaya  pencegahan  jauh  lebih  baik  daripada  upaya  pengobatan. Untuk  itu  masyarakat  luas  perlu  diberikan  informasi  tentang  kesehatan  jiwa  beserta permasalahan,   pencegahan   dan   penanganannya.   Upaya   pelayanan   kesehatan   jiwa terhadap  masyarakat  pada  saat  ini  tidak  mungkin  dilaksanakan  oleh  petugas  kesehatan saja, tetapi perlu peran serta seluruh masyarakat dan keluarga klien untuk memfasilitasi peran aktif dari kader kesehatan dalam upaya kesehatan jiwa.

B.    Rumusan Masalah
1.    Kesehatan jiwa dimulai masa konsepsi.
2.    Bagaimana cara meningkatkan masalah kesehatan jiwa?
3.    Faktor penyebab kecenderungan gangguan jiwa?
4.    Kecenderungan situasi di era globalisasi yang mempengaruhi kesehatan jiwa?
5.    Penyakit yang cenderung dalam keperawatan jiwa?
6.    Peningkatnya dalam masalah psikososial?
7.    Trend bunuh diri pada anak dan remaja
8.    Masalah dalam napza dan hiv/aids ?
9.    Pattern of parenting dalam keperawata jiwa.
10.    Hal-hal yang mempengaruhi kesehatan jiwa?
11.    Trend dalam pelayanan keperawatan mental psikiatri.

C.    Tujuan
1.    Tujuan Umum
Mampu menemukan cara untuk mengatasi trend dan issue keperawatan jiwa.

2.    Tujuan Khusus
a.    Menjelaskan tentang masalah-masalah dalam keperawatan jiwa.
b.    Menerangkan perkembangan dalam keperawatan jiwa.



Daftar Pustaka
Ancok, Jamaludin & Fuad Nashori Suroso. 2001. Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Antai Otong, Deborah. 1994. Psychiatric Nursing: Biological and Behavioral Conceps. Philadelpia: WB Saunders Company.
Darajat, Zakiah. 1983. Kesehatan Mental. Jakarta: PT.Bulan Bintang.
Finaldin, Tom. 1999. Bahaya NAPZA Bagi Pelajar. Bandung: Yayasan Al Ghifari.
Hunsberg & Abderson. 1989. Psychiatric Mental Health Nursing. Philadelphia: W.B.Saunders Company.
Leininger. 1973. Contemporary in Mental Health Nursing. Boston: Little Brown.
Mc Farland, Gestrude K. 1991. Psychiatric Mental Health Nursing. Philadelphia: J.B.Lippincot Company.
Tom, Kus, Tedi. 1999. Bahaya NAPZA Bagi Pelajar. Bandung: Yayasan Al Ghifari.
 
Download selengkapnya click here

Baca Selengkapnya ....

ASKEP Pada Pasien Dengan Kista Ovarium

Posted by Unknown 0 komentar

BAB I

PENDAHUUAN

1.1  Latar Belakang

Kista ovarium merupakan salah satu bentuk penyakit repoduksi yang banyak menyerang wanita.Kista atau tumor merupakan bentuk gangguan yang bisa dikatakan adanya pertumbuhan sel-sel otot polos pada ovarium yang jinak.
Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan untuk menjadi tumor ganas atau kanker.

Perjalanan penyakit yang sillint killer atau secara diam diam menyebabkan banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terserag kista ovarim dan hanya mengetahui pada saat kista sudah dapat teraba dari luar atau membesar.

Kista ovarium juga dapat menjadi ganas dan berubah menjadi kanker ovarium.Untuk mengetahui dan mencegah agar tidak terjadi kanker ovarium maka seharusnya dilakukan pendeteksian dini kanker ovarium dengan pemeriksaan yang lebih lengkap.Sehigga dengan ini pencegahan terjadinya keganasan dapat dilakukan.

Kista ovarium memiliki jenis dan klasifikasi yang cukup banyak.Tergantung dari mana kista itu berasal.Untuk lebih lanjutnya akan penulis bahas pada tinjauan teori.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :

1.      Apa yang dimaksud kista ovarium ?

2.      Apakah penyebab dari kista ovarium ?

3.      Bagaimana manifestasi klinis dari kista ovarium ?

4.      Bagaimana patofisiologi dan WOC dari kista ovarium ?

5.      Apakah ada komplikasi dari kista ovarium ?

6.      Bagaimana pengkajian askep kista ovarium ?

1.3  Tujuan

Tujuan umum

1.      Agar masyarakat lain mengetahui apa itu kista ovarium.

2.      Agar mengetahui bagaimana cara pencegahan nya.

3.      Untuk penambahan pengetahuan di masyarakat awam.

Tujuan khusus

Mampu memahami dan mengerti penatalasanaan dari kista ovarium dan bagaimana pemenuhan asuhan keperawatan pada klien dengan kista ovarium.

1.4  Manfaat Penulisan

Sesuai dengan latar belakang masalahdan tujuan penulisan yang akan dicapai, maka manfaat yang dapat diharapkan dalam penulisanini :

1.      Bagi kelompok

Dapat menambah wawasan dan penatalaksanaan Kista ovarium.

2.      Bagi profesi

Dapat memberikan sumbangan ilmu bagi ilmu keperawatan.

3.      Bagi bagi institusi pendidikan

Digunakan sebagai sumber informasi, khasanah, wacana, kepustakaan serta dapat digunakan sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya.





DAFTAR PUSTAKA


Mansjoer ,Arif.2001.Kapita Selekta Kedokteran .Jakarta : EGC
Marylynn. E.Doengus. (2000). Rencana Asuhan keperawatan, edisi 3, penerbit buku kedokteran, Jakarta.
Manuaba ,I Gede Bagus.2004,Kapita Selekta Kedokteran dan KB .Jakarta : EGC
Prawiroharjo,Sarwono.2005.Ilmu Kandungan .Jakarta : YBPSP
---------.2005.Ilmu Kebidanan .Jakarta : YBPSP
Sylvia Anderson. (2000). Patofisiologo penyakit, edisi 4, penerbit EGC buku kedokteran, Jakarta.
Sarwono P. ( 1999). Ilmu Kandungan, Yayasan bina pustaka, edisi 2, Jakarta.
TIM FK UNPADJ.2001.Ginekologi.Bandung : FK UNPADJ
 

Download selengkapnya  click here


Baca Selengkapnya ....
close

Translate

Followers

Facebook Badge


Blog Stats