Tampilkan postingan dengan label ASKEP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASKEP. Tampilkan semua postingan

Mengenal Taksonomi Diagnosa Keperawatan Versi NANDA

Posted by Unknown Jumat, 23 Mei 2014 0 komentar
By : Nur Martono
Banyak mahasiswa keperawatan di Indonesia yang telah memahami Asuhan keperawatan dengan NCP (Nursing Care Plan) didalamnya. Ada pula yang sering menggunakan Taksonomi Diagnosa Keperawatan versi NANDA. Untuk itulah kita akan sama-sama mengulas kembali dan mengetahui sekelumit latar belakang taksonomi diagnosa keperawatan versi NANDA (by the way - saya suka dengan singkatannya !!).

Apa itu NANDA ?

Sebenarnya NANDA adalah Singkatan dari North American Nursing Diagnosis Association (Asosiasi Diagnosa Keperawatan Amerika Utara). Meskipun singkatan NANDA lebih memaknakan sebuah organisasi, namun jangan terlihat tersurat, lebih menyimaknya secara tersirat.

NANDA secara internasional memiliki komitmen untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman keperawatan dalam membangun, menjabarkan, dan mengklasifikasi aspek keperawatan. Secara esensial NANDA mengembangkan, menjabarkan dan menyebarluaskan informasi Taksonomi Diagnosa Keperawatan yang secara umum digunakan oleh perawat profesional.

Taksonomi ini merupakan konsep kerangka kerja dalam menentukan sebuah diagnosa keperawatan. Konsep dari diagnosa keperawatan sendiri adalah upaya keberhasilan pendekatan klinis keperawatan dan diagnosa keperawatan secara internasional dianggap penting dalam pendekatan sistem dan rencana keperawatan klien/pasien (Barnum, 1994)

NANDA nomenklatur diagnosa keperawatan lebih melambangkan pengambilan keputusan tindakan klinis keperawatan tentang masalah kesehatan yang aktual atau potensial. Diagnosa Keperawatan NANDA menjelaskan tentang reaksi pasien terhadap penyakit atau trauma yang dapat diperbandingkan dengan kode ICD-9-CM(International Code of Diseases)/ diagnosa medis kedokteran, yang lebih menjelaskan penyakit atau trauma secara medis. NANDA saat ini berisi 167 diagnosa keperawatan yang telah disepakati dan terbagi dalam 9 domain (ranah). Setiap diagnosa terdiri dari label/judul, definisi, karakteristik umum dan khusus masing-masing definisi, dan faktor yang terkait.

Secara mudahnya NANDA adalah metode yang umum untuk menentukan dan mengmbangkan diagnosa keperawatan. Survey terbaru dari 43 Fakultas Keperawatan di Michigan, Amerika Serikat mengindikasikan bahwa penggunaan NANDA nomenklatur tetap konsisten tinggi di angka 91% (Keenan, 2001). Bahkan sebagian besar universitas mengajarkan NANDA nomenklatur dalam kurikulum mereka.

Saat mengkaitkan dengan klasifikasi Intervensi keperawatan (nursing intervention classification – NIC) dan klasifikasi tujuan diagnosa keperawatan (nursing outcomes classification – NOC), semua dikembangkan di Universitas Keperawatan Iowa. Sehingga sangat membantu menjelaskan proses keperawatan secara utuh.

Sejarah Pengembangan Nomenklatur Diagnosa Keperawatan NANDA

Kebutuhan untuk menstandarisasi bahasa dalam medical records (rekam medik) adalah bukan hal yang baru. Hal ini lebih dalam upaya mendefinisikan peran perawat, konstribusi dan keunikkan body of knowledge keperawatan yang akhirnya mengarahkan pengembangan klasifikasi diagnosa keperawatan.

Pada tahun 1973 Kristine Gebbie dan Mary Ann Lavin pertama kalinya membuat kelompok kerja (task force) untuk memberi nama dan mengklasifikasi Diagnosa Keperawatan. Kemudian tim kerja yang diberi nama Task Force of the National Conference Group on the Classification of Nursing Diagnoses (Pokja Konferensi Nasional Klasifikasi Diagnosa Keperawatan). Pokja ini terbentuk di tahun 1974, dan di tahun 1982 NANDA menyusun Pokja Nasional yang beranggotakan Amerika Serikat dan Kanada.

Di tahun 1986, The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) membuat sistem klasifikasi yang memberi judul dan membunyikan diagnosa keperawatan. Taksonomi ini awalnya hanya daftar diagnosa keperawatan yang tersusun secara alphabet, namun kemudian menjadi satu sistem panduan klasifikasi diagnosa keperawatan (taksonomi) di tahun 1987 dikenal dengan Taksonomi NANDA I, dan menjadi standar teksbook pendidikan perawat di Amerika Serikat dan diseluruh dunia. Taksonomi NANDA II yang terbaru terbit di tahun 2012-2014.
Taksonomi NANDA

Sebuah taksonomi berarti sebuah metode yang terorganisir dari beberapa kumpulan informasi. NANDA dengan mudahnya membuat kerangka kerja diagnosa keperawatan lebih mudah dipetakan dan terstandarisasi. NANDA adalah sebuah kode yang tediri dari 9 (NINE) " Human Response Patterns" – sembilan pola respon tubuh manusia.
  1. Exchanging
  2. Communicating
  3. Relating
  4. Valuing
  5. Choosing
  6. Moving
  7. Perceiving
  8. Knowing
  9. Feeling

Daftar Diagnosa keperawatan versi NANDA memasukkan unsur 3 masalah :
  • Actual problems (Masalah Aktual)
  • Risks for problems (Masalah Resiko)
  • Welness Issues (Isu Sehat-sakit)

Dan setiap diagnosa keperawatan menyertakan selalu 4 komponen yang terpisah yaitu :
  • Judul Diagnosa
  • Definisi
  • Karakteristik Umum dan Khusus tiap masalah
  • Faktor Resiko/terkait

Sebagai contoh, diagnosa keperawatan "Nyeri" didefinisikan sebagai " Suatu keadaan tidak nyaman dari sensoris dan melibatkan pengalaman emosional klien yang mungkin muncul akibat kerusakan jaringan tubuh (aktual/potensial); yang muncul sesaat/perlahan dalam intensitas ringan – berat, yang dapat diprediksi, dan dalam durasi kurang dari 6 bulan. Karakteristik umum termasuk keluhan secara verbal, adanya tanda, penggunaan "pain killer drugs", perilaku protektif terhadap nyeri. Karakteristik khusus termasuk " fokus terhadap diri, gangguan persepsi terhadap waktu, gangguan proses pikir, penurunan interaksi dengan lingkungan dan orang lain, perilaku distraksi. Faktor yang berhubungan dengan nyeri antara lain adanya trauma biologis, kimia, fisik, dan psikologis.
 


Baca Selengkapnya ....

Pemasangan Kateter Perkemihan (With Videos)

Posted by Unknown Senin, 11 November 2013 0 komentar

Selamat pagi sobat dox article, kali ini kita akan membahas salah satu tindakan dalam memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia yaitu "Kateterisasi Perkemihan". Sebelumnya akan dibahas secara singkat apa itu keteterisasi perkemihan?

Kateterisasi perkemihan adalah tindakan memasukkan selang karet atau plastik melalui uretra dan masuk ke dalam kandung kemih. Terdapat dua jenis kateterisasi perkemihan, yaitu menetap dan intermiten.

Tujuan
  1. Menghilangkan ketidaknyamanan karena distensi kandung kemih.
  2. Mendapatkan urine steril untuk spesimen.
  3. Pengkajian residu urine.
  4. Penatalaksanaan pasien yang dirawat karena trauma medula spinalis, gangguan neuromuskular, atau pascaoperasi besar.
  5. Mengatasi obstruksi aliran urine.
  6. Mengatasi retensi perkemihan.
Alat dan Bahan
  1. Sarung tangan steril.
  2. Kateter steril (sesuai dengan ukuran dan jenis).
  3. Duk steril.
  4. Minyak pelumas/jeli.
  5. Larutan pembersih antiseptik (kapas sublimat)
  6. Spuit yang berisi cairan atau udara.
  7. Perlak.
  8. Pinset anatomi.
  9. Bengkok.
  10. Kantung penampung urine.
  11. Sampiran.
Prosedur Kerja 
Pemasangan kateter perkemihan pada pria
  1. Jelaskan prosedur. 
  2. Cuci tangan.
  3. Pasang sampiran.
  4. Pasang perlak.
  5. Gunakan sarung tangan steril.
  6. Pasang duk steril.
  7. Tangan kiri memegang penis lalu prepusium ditarik sedikit ke pangkalnya dan bersihkan dengan kapas sublimat.
  8. Kateter diberi minyak pelumas atau jeli pada ujungnya (kurang lebih 12,5-17,5 cm) lalu masukkan perlahan (kurang lebih 17,5-20 cm) dan sambil anjurkan pasien menarik napas dalam.
  9. Jika tertahan jangan dipaksa.
  10. Setelah keteter masuk, isi balon dengan cairan aquades atau sejenisnya untuk kateter menetap, dan bila intermiten tarik kembali sambil pasien diminta menarik napas dalam.
  11. Sambung ketetr dengan kantung penampung dan fiksasi ke arah atas paha/abdomen.
  12. Rapikan alat.
  13. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
  14. Catat prosedur dan respons pasien.
Pemasangan kateter perkemihan pada wanita 
  1. Jelaskan prosedur. 
  2. Cuci tangan.
  3. Pasang sampiran.
  4. Pasang perlak.
  5. Gunakan sarung tangan steril.
  6. Pasang duk steril disekitar alat genital.
  7. Bersihkan vulva dengan kapas sublimat dengan arah dari atas ke bawah (kurang lebih 3 kali hingga bersih).
  8. Buka labia mayora dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri dan bersihkan bagian dalam.
  9. Kateter diberi minyak pelumas atau jeli pada ujungnya (kurang lebih 2,5-5 cm) lalu masukkan perlahan dan minta pasien menarik napas dalam, masukkan (2,5-5 cm) atau hingga urine keluar.
  10. Setelah selesai isi balon dengan menggunakan spuit untuk kateter menetap dan bila intermiten tarik kembali sambil pasien menarik napas dalam.
  11. Sambung kateter dengan kantong penampng urine dan fiksasi ke arah samping.
  12. Rapikan alat.
  13. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
  14. Catat prosedur dan respons pasien. 

Video Pemasangan Kateter Pada Pria



Video Pemasangan Kateter Pada Wanita


Semoga Bermanfaat...

Courtesy by:
Hidayat Azis Alimul,  Musrifatul Uliyah. 2002. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: EGC.
Youtube.com 

Baca Selengkapnya ....

ASKEP Pada Bayi Prematur

Posted by Unknown Senin, 16 September 2013 0 komentar
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kebanyakan bayi adalah matur, sehat dan terbentuk sempurna pada saat lahir, tetapi dalam presentase kecil tidaklah demikian. Bagi mereka yang mengalami hal demikian, deteksi dan penanganan awal terhadap masalah adalah penting.

Sebetulnya semua bayi yang berkembang dibawah normal disebut premature kemudian diketahui bahwa baik usia gestasi dan pertumbuhan yang diukur melalui berat badan merupakan indicator penting terhadap derajat resiko yang sesuai. Berbicara sesuai umum, bayi paterm dan mereka dengan BBLR memiliki tingkat mortalitas yang tinggi dibandingkan dengan bayi lahir fullterm dengan berat badan yang sesuai. Bayi yang memiliki masalah yang berhubungan dengan pertumbuhan biasanya mengalami gangguan pernafasan, neurology dan terminal.

Namun belakangan ini teknologi kedokteran sangat maju. Jaman dulu bayi prematur yang lahir usia 6 bulan ke bawah (25 minggu atau kurang) hamper tidak ada harapan hidup sama sekali. Boleh dibilang hampir semuanya mati. Karena kemajuan kedokteran sekarang, bayi lahir prematur sekitar 6 bulan bisa dipertahankan hidupnya.

Pada mulanya tim dokter dan orang tua senang dengan adanya teknologi ini. Mereka bisa menyelamatkan nyawa bayi yang pada jaman dulu sudah hampir pasti akan mati jika lahir usia kandungan 25 minggu atau kurang. Karena teknologi ini sangat baru, efeknya tidak terlalu diketahui. Sampai pada akhirnya ada yang mempelajari efek bayi prematur. Dan hasilnya bahwa bayi prematur yang diselamatkan dahulu hanya 25% yang bisa dianggap nomal. Dari jumlah yang sedikit itupun, sebagian besar kecerdasannya sangat terbatas (bodoh). 75% sisanya mengalami berbagai macam kelainan, dari gagal ginjal, problem dengan jantung, sampai pada keterbelakangan mental akut.

B.    Tujuan
1.    Tujuan Umum
mampu untuk mengidentifikasi dan memberikan asuhan keperawatan pada bayi premature.

2.    Tujuan Khusus
a.    Mereview anatomi dan fisiologi pada bayi prematur
b.    Menjelaskan pengertian bayi prematur
c.    Menjelaskan etiologi bayi prematur
d.    Menjelaskan patofisiologi bayi prematur
e.    Menjelaskan penatalaksanaan bayi prematur
f.    Mengidentifikasi asuhan keperawatan bayi prematur



BAB II
TINJAUAN TEORI
A.    Anatomi Dan Fisiologi
1.    Vital Statistik
a.    Berat badan bayi baru lahir tergantung dari factor nutrisi, genetic dan factor intrauterine selama kehamilan. Pengelompokan berat badan bayi baru lahir membantu dalam mengidebtifikasi risiko terhadap neonatus karena berat badanyang kecil kemungkinan memiliki masa gestasi yang kecil. Bayi matur memiliki berat badan kira – kira 3,4 kg pada perempuan dan 3,5kg pada laki – laki. Batas berat badan terendah bagi bayi matur adalah 2,5 kg. bayi dengan berat badan lahir sekitar 4,7 kg harus dicurigai terhadap adanya diabetes mellitus pada ibunya. Sekitsr 75 % - 95 % berat badan bayi merupakan cairan tubuhnya. Bayi akan kehilangan cairan sekitar 5 % - 10 % pada beberapa hari pertama setelah kelahiran. Setelah mengalami kehilangan cairan yang inisial, maka bayi akan mengalami berat badan yang stabildalam waktu 10 hari. Kemudian akan bertambah sebanyak 6 – 8 ons/ minggu pada 6 bln pertama kelahiran.

b.    Panjang badan bayi baru lahir kira – kira 53 cm pada perempuan dan pada bayi laki – laki memiliki panjang badan 54 cm.


c.    Lingkar kepala baru lahir adalah 34 – 35 cm. Bayi baru lahir dengan lingkar kepala lebih dari 37 cm atau kurang dari 33 cm harus diidentifikasi mengenai adanya kelainan neurology. Pengukuran lingkar kepala menggunakan pita ukur yang dilakukan pada tengah – tengah dahi sehingga kepala belakang dapat terukur.

d.    Lingkar dad pada bayi baru lahir adalah 2 cm kurang dari lingkar kepala. Pengukuran dilakukan tepat diatas nipple, yakni tonjolan berpigmen pada permukaan anterior kelenjar mamae. Dikelilingi oleh areola, tempat keluarnya air susu dari payudara.


2.    Tanda Vital
a.    Temperatur
1)    Konfeksi
Adalah kehilangan panas dari permukaan tubuh menuju udara sekitar yang lebih dingin.

2)    Konduksi
Adalah transfer panas pada obyek/ benda yang lebih dingin tanpa kontak denagn tubuh bayi.

3)    Radiasi
Adalah transfer panas pada obyek yang lebih dingin tanpa kontak dengan tubuh bayi.

4)    Evaporasi
Adalah kehilangan panas karena ada penguapan.

b.    Nadi
Tekanan nadi fetus yang masih dalam kandungan adalah 120 – 160 bpm. Segera setelah lahir, dimana bayi akan berjuang untuk bernafas, maka denyut jantung menjadi cepat sekitar 180 bpm. Beberapa jam setelah lahir, denyut jantung akan stabil sekitar 120 – 140 bpm. Denyut jantung pada bayi baru lahir biasanya irregular karena kardiolegulator di medulla belum matang. Murmur biasanya terjadi akibat penutupan inkomplit pada sirkulasi. Pada saat menangis, denyut jantung menjadi 180 bpm dan pada saat tidur 90 – 110 bpm.

c.    Pernafasan
Pernafasan pada bayi baru lahir adalah 80X/ mnt, setelah beberapa menit kehidupan. Setelah aktivitas pernafasan dipertahankan, maka menjadi stabil sekitar 30 – 60X/ mnt dalam keadaan istirahat. Kedalaman ritme masih irreguler dan terjadi apnea yang singkat tanpa sianosi yang disebut pernafasan periodik dan merupakan keadaan normal. Reflek batuk dan bersin pada bayi baru lahir dilakukan untuk membersihkan saluran nafas.

d.    Tekanan darah
Tekanan darah bayi baru lahir adalah 80/ 46 mmHg. Setelah 10 hari akan meningkat ketika bayi menangis.

Selengkapnya bisa download Disini

Baca Selengkapnya ....

ASKEP Jiwa Pada Pasien Dengan Harga Diri Rendah

Posted by Unknown Minggu, 15 September 2013 0 komentar
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Manusia adalah merupakan makhluk sosial dari zaman dahulu. Di dunia telah terdapat tanda-tanda yang menunjukkan bahwa pada waktu tertentu manusia sudah mengenal dan berusaha mengobati gangguan jiwa.

Pada zaman modern ini ternyata pengobatan dengan model keagamaan masih ada dinegara kita dan dinegara berkembang lainnya. Secara garis besar sejarah perkembangan keperawatan kesehatan mental, psikiatri diluar negeri sekarang dapat dikelompokkan kedalam priodisasi yaitu perawat sebagai profesi dalam keperawatan, sebagai elemen inti dari semua praktek keperawatan. (Widodo, 2005)

Program kesehatan jiwa di Indonesia bermula dari program pelayanan asien gangguan jiwa berat (psikosis) didalam RSJ yang boleh dikaji hanya berupa pelayanan kuratif dengan perawat inap saja yang masih “Costudial” bersifat tertutup dan isolative. Hal ini disebabkan karena pelayanan kuratif dengan perawat inap saja yang masih terbatas karena obat psikotropika belum ada, psikoterapi pun belum ada, sedangkan waktu terapi belum dapat dikasihkan sebagai okupasi terapi  atau kegiatan yang bertujuan rehabilitasi, karena biasanya tinggal di RS Jiwa sampai meninggal. (Widodo, 2005)

Menurut Harwati (2008) skizofrenia merupakan penyakit otak yang sanggup merusak dan menganjurkan emosi, selain karena faktor genetic penyakit ini juga bisa muncul akibat tekanan darah tinggi. Gangguan menjadi masalah serius diseluruh dunia. WHO taun 2007, menyatakan paling tidak 1 dari 4 orang atau sekitar 450 juta orang terganggu jiwanya. Di Indonesia berdasarkan survey kesehatan RT, pada setiap 1000 anggota RT terdapat 185 orang mengalami gangguan terkait masalah kejiwaan. Menurut (Halwan, 2007) bahwa jumlah penderita skizofrenia di Indonesia adalah 3,5 per 1000. Penduduk mayoritas penderita berada di kom besar. Ini terkait dengan tingginya stress yang muncul didaerah perkotaan.

Seiring dengan peradaban masalah manusia masalah kehidupan semakin komplen pula. Masalah tersebut bisa berasal sendiri, maupun dari faktor lain yakni gangguan pada fisik maupun mental akibat kemunculan masalah tersebut. Gangguan fisik mungkin sudah umum terjadi dengan sarana penunjangnya juga telah banyak tersedia diberbagai tempat, sedangkan gangguan mental lebih sering dianggap tidak perlu dirawat dipelayanan kesehatan dengan alasan keterbatasan pengetahuan dan prasarana. (STUART dan Kemla, 2001)

Dari data yang diperoleh dari Ruang Melati RSJ Prof. HB Saanin pada tahun 2012 pada enam bulan terakhir didapatkan jumlah pasien yang dirawat semua sebanyak 336 orang dan 44 orang diantaranya dengan diagnose keperawatan HDR (Harga Diri Rendah).

B.    TUJUAN
1.    Tujuan Umum
Kelompok mampu memberikan asuhan keperawatan jiwa pada pasien yang mengalami Harga Diri Rendah.

2.    Tujuan Khusus
a.    Mampu memahami konsep dari Harga Diri Rendah.
b.    Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan Harga Diri Rendah.
c.    Mampu menegakkan diagnose keperawatan pada klien dengan Harga DIri Rendah.
d.    Mampu menyusun intervensi keperawatan yang sesuai dengan masalah yang diprioritaskan pada klien dengan Harga Diri Rendah.
e.    Mampu melaksanakan implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi keperawatan yang dibuat pada klien dengan Harga Diri Rendah.
f.    Mampu melakukan evaluasi terhadap implementasi keperawatan yang diberikan pada klien dengan Harga Diri Rendah.
g.    Mampu melakukan pendokumentasian keperawatan pada klien dengan Harga Diri Rendah.

C.    MANFAAT PENULISAN
1.    Mahasiswa
Menambah pengetahuan mahasiswa tentang konsep dan asuhan keperawatan pada pasien Harga Diri Rendah.

2.    Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan bagi RSJ dalam memberikan asuhan keperawatan.

3.    Institusi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa yang menginginkan pengetahuan tentang konsep HDR & Asuhan Keperawatannya.

4.    Klien & Keluarga
Menambah pengetahuan klien & keluarga dalam merawat keluarga/klien dengan Harga Diri Rendah.



BAB II
TINJAUAN TEORI
A.    PENGERTIAN
Harga diri rendah adalah
a.    menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga da tidak dapat bertanggung jawab pada kehidupannya sendiri
b.    perassan tidak berharga, tidak berarti dan rendanh diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negative terhadap diri sendiri dan kemammpuan diri.
c.    Penilain individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesaui dengan ideal diri. Pencapaian ideal diri atau cita-cita atau harapan langsung menghasilkan perasaan bahagia. (Kelliat, Budi. A, 1998)

Selengkapnya download Disini

Baca Selengkapnya ....

ASKEP Pada Pasien Dengan Enuresis

Posted by Unknown Jumat, 13 September 2013 2 komentar

BAB I PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang
Enuresis atau yang lebih kita kenal sehari-hari dengan istilah “mengompol”, sudah tidak terdengar asing bagi kita khususnya di kalangan orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu “momok” yang sering dihadapi dalam hal ini para ibu yang telah mempunyai anak, terutama anak yang berusia antara 4-6 tahun. Dalam kasus ini tidak jarang pula usia di atas 6 tahun masih mengalami enuresis ini.

B. Tujuan
a. Mahasiswa mampu mengetahui definisi dari enuresis.
b. Mahasiswa mampu mengetahui tipe-tipe dari enuresis.
c. Mahasiswa mampu mengetahui etiologi dari enuresis.
d. Mahasiswa mampu mengetahui manifestasi klinis dari enuresis.
e. Mahasiswa mampu mengetahui anatomi dan fisiologi normal dari kandung kemih.
f. Mahasiswa mampu mengetahui patofisiologi.
g. Mahasiswa mampu mengetahui komplikasi dan prognosis.
h. Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan dari enuresis.
i. Mahasiswa mampu mengetahui pemeriksanaan penunjang dari enuresis.
j. Mahasiswa mampu mengetahu asuhan keperawatan pada pasien dengan enuresis.

Download lebih lengkap  Klik Disini

Baca Selengkapnya ....

ASKEP Pada Pasien Dengan Kista Ovarium

Posted by Unknown Jumat, 19 Juli 2013 0 komentar

BAB I

PENDAHUUAN

1.1  Latar Belakang

Kista ovarium merupakan salah satu bentuk penyakit repoduksi yang banyak menyerang wanita.Kista atau tumor merupakan bentuk gangguan yang bisa dikatakan adanya pertumbuhan sel-sel otot polos pada ovarium yang jinak.
Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan untuk menjadi tumor ganas atau kanker.

Perjalanan penyakit yang sillint killer atau secara diam diam menyebabkan banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terserag kista ovarim dan hanya mengetahui pada saat kista sudah dapat teraba dari luar atau membesar.

Kista ovarium juga dapat menjadi ganas dan berubah menjadi kanker ovarium.Untuk mengetahui dan mencegah agar tidak terjadi kanker ovarium maka seharusnya dilakukan pendeteksian dini kanker ovarium dengan pemeriksaan yang lebih lengkap.Sehigga dengan ini pencegahan terjadinya keganasan dapat dilakukan.

Kista ovarium memiliki jenis dan klasifikasi yang cukup banyak.Tergantung dari mana kista itu berasal.Untuk lebih lanjutnya akan penulis bahas pada tinjauan teori.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :

1.      Apa yang dimaksud kista ovarium ?

2.      Apakah penyebab dari kista ovarium ?

3.      Bagaimana manifestasi klinis dari kista ovarium ?

4.      Bagaimana patofisiologi dan WOC dari kista ovarium ?

5.      Apakah ada komplikasi dari kista ovarium ?

6.      Bagaimana pengkajian askep kista ovarium ?

1.3  Tujuan

Tujuan umum

1.      Agar masyarakat lain mengetahui apa itu kista ovarium.

2.      Agar mengetahui bagaimana cara pencegahan nya.

3.      Untuk penambahan pengetahuan di masyarakat awam.

Tujuan khusus

Mampu memahami dan mengerti penatalasanaan dari kista ovarium dan bagaimana pemenuhan asuhan keperawatan pada klien dengan kista ovarium.

1.4  Manfaat Penulisan

Sesuai dengan latar belakang masalahdan tujuan penulisan yang akan dicapai, maka manfaat yang dapat diharapkan dalam penulisanini :

1.      Bagi kelompok

Dapat menambah wawasan dan penatalaksanaan Kista ovarium.

2.      Bagi profesi

Dapat memberikan sumbangan ilmu bagi ilmu keperawatan.

3.      Bagi bagi institusi pendidikan

Digunakan sebagai sumber informasi, khasanah, wacana, kepustakaan serta dapat digunakan sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya.





DAFTAR PUSTAKA


Mansjoer ,Arif.2001.Kapita Selekta Kedokteran .Jakarta : EGC
Marylynn. E.Doengus. (2000). Rencana Asuhan keperawatan, edisi 3, penerbit buku kedokteran, Jakarta.
Manuaba ,I Gede Bagus.2004,Kapita Selekta Kedokteran dan KB .Jakarta : EGC
Prawiroharjo,Sarwono.2005.Ilmu Kandungan .Jakarta : YBPSP
---------.2005.Ilmu Kebidanan .Jakarta : YBPSP
Sylvia Anderson. (2000). Patofisiologo penyakit, edisi 4, penerbit EGC buku kedokteran, Jakarta.
Sarwono P. ( 1999). Ilmu Kandungan, Yayasan bina pustaka, edisi 2, Jakarta.
TIM FK UNPADJ.2001.Ginekologi.Bandung : FK UNPADJ
 

Download selengkapnya  click here


Baca Selengkapnya ....

ASKEP Pada Pasien Dengan Infeksi Neonatal

Posted by Unknown Kamis, 18 Juli 2013 0 komentar



BAB I

Pendahuluan

1.1     Latar belakang

Infeksi pada bayi baru lahir lebih sering ditemukan pada bayi yang lahir di rumah sakit dibandingkan pada bayi yang lahir diluar rumah sakit. Bayi baru lahir mendapat kekebalan (imunitas) trans plasenta terdapat kuman yang berasal dari ibunya. Sesudah lahir bayi terpapar dengan kuman sering juga berasal dari orang lain. Dalam hal ini bayi tidak mempunyai imunitas.

Infeksi pada bayi baru lahir cepat sekali menjalar menjadi infeksi umum, sehingga gejala infeksi lokal tidak menonjol lagi, diagnosis dini sering dibuat apabila petugas pelayanan kesehatan cukup waspada terhadap kelainan tingkah laku bayi baru lahir yang sering kali merupakan tanda awal infeksi umum. Beberapa gejala perubahan tingkah laku bayi baru lahir tersebut diantaranya ialah malas minum, gelisah atau mungkin tampak letargis, frekuensi pernafasan meningkat, berat badan tiba-tiba turun, muntah, dan diare. Selain itu dapat terjadi edema, sklerema pura-pura atau perdarahan. Ikterus, hepatosplenomegali dan kejang. Suhu tubuh dapat meninggi, normal atau dapat pula kurang dari normal.

Infeksi neonatus (bayi baru lahir) sering dijumpai, apalagi di daerah pedesaan dengan persalinan dukun beranak. Menghadapi keadaan demikian perawat/bidan harus mampu mengatasi dan segera melakukan rujukan sehingga bayi mendapat pengobatan yang cepat dan tepat. Penyakit infeksi ini dapat terjadi melalui :

·         Infeksi antenatal : terjadi sejak masih dalam kandungan

·         Infeksi intranatal : terjadi saat berlangsungnya persalinan

·         Infeksi postnatal : terjadi setelah bayi berada di luar kandungan

1.2  Rumusan Masalah

            Adapun permasalahan yang akan dibahas pada “KeperawatanMaternitas”. Untuk memberikan alasan makna  serta menghindari meluasnya makna dalam asuhan keperawatan ini, masalahnya dibatasi pada : “Asuhan Keperawatan Infeksi Neonatal”.

1.3  Tujuan

Tujuan dari asuhan keperawatan ini adalah sebagai gambaran tentang keadaan klien yang mungkin bagi perawat untuk merencanakan asuhan keperawatan infeksi neonatal.



DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn E, Mary frances Moorhouse. 2001. Rencana perawatan maternal/bayi : pedoman untuk perencanaan dan dokumentasi keperawatan keluarga. Jakarta : EGC.

Haws, Paulette S. 2007. Asuhan neonatus : rujukan cepat. Jakarta : EGC.

Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu kebidanan penyakit KB untuk pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

Mitayani. 2009. Asuhan keperawatan maternitas. Jakarta : Salemba Medika.

Sudarti. 2010. Kelainan dan penyakit pada bayi dan anak. Yogyakarta : Nuha Medika

Yayasan Bina pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2006. Buku awan nasional pelayanan kesehatan maternitas neonatal. Jakarta : Tridasa Printer.



Download selengkapnya click here

Baca Selengkapnya ....
close

Translate

Followers

Facebook Badge


Blog Stats